
Salah satu kristalisasi keringat



Ketika menciptakan mesin uap pada 1765, mungkin James Watt tidak pernah berpikir bahwa setelah itu dunia mengalami percepatan kemajuan yang luar biasa. Jika ditarik garis kasar, mesin uap inilah yang telah memicu manusia memasuki babak baru, sebuah revolusi sekaligus kelahiran jaman industri.
Revolusi Industri yang dimulai dari tanah Inggris telah menyebabkan mekanisasi pada banyak benda budaya manusia. Barang-barang dibuat melalui sistem produksi massal dengan tingkat ketelitian yang cukup tinggi. Memang di satu sisi hal ini sangat menguntungkan, manusia memiliki lebih banyak waktu dan tenaga yang bisa disimpan. Tapi efek lain dari revolusi ini tidak bisa diabaikan begitu saja. Adanya mekanisasi telah mendegradasi keahlian tangan, khususnya tangan milik para seniman, karya-karya mereka tidak lagi begitu dihargai karena telah digantikan oleh kehalusan buatan mesin.
Hal ini menimbulkan kemandegan, khususnya di bidang seni, tapi apakah kreativitas para pemimpi ini lantas mati? Tentu saja jawabnya tidak, sebagai jalan keluarnya, para artis mencoba beralih ke bentuk-bentuk yang tidak mungkin dicapai oleh alat produksi massal atau seandainya saja bisa, maka akan memakan biaya pembuatan yang sangat mahal. Lukisan, karya-karya seni rupa, dan kriya diarahkan kepada bentuk kurva-kurva halus yang kebanyakan terinspirasi dari keindahan garis-garis tumbuhan di alam.
Awalnya style ini menjadi arus kecil yang menentang mainstream kuasa produk massal dan modernisasi. Akan tetapi pada akhirnya, style yang lebih dikenal dengan sebutan art nouveau ini menjadi lambang keberhasilan daya survive kreativitas terhadap gerusan zaman.
Bersaing untuk mengalahkan peluangnya hampir tak ada atau tipis sekali, dan kalau dipaksakan mungkin bisa tapi sangat segmented, artinya hanya pada lingkungan tertentu saja yang jumlahnya sangat terbatas koran bisa masuk. Tapi bukan berarti internet tidak memiliki kelemahan, secara kumulatif layanan internet masih bisa dibilang mahal, kita tidak bisa menikmati internet tanpa PC, notebook, atau media multiservice lainnya, seperti PDA dan smart hp, dan sudah menjadi rahasia umum kalau harga barang-barang yang tersebut diatas tidak pernah turun dari akhiran juta di mata uang rupiah. Kan ada warnet? Ok kita pakai warnet, sekarang berapa harga sewa PC layanan warnet perjamnya, bisa jadi kita dapat dua koran, atau untuk daerah yang persaingan warnetnya ketat kita bisa dapat satu koran baru.
Tapi lagi-lagi koran masih punya sifat yang tak terlampaui, ia telah menjadi sumber data dan dokumentasi yang kevalidannya telah diakui karena telah dibangun oleh reputasi baik dan dalam waktu lama. Para pekerja koran, khususnya di radaksionalnya, bukanlah orang sembarangan, berbeda dengan internet, walau kita bisa print data kapan saja tapi keakuratan sumbernya masih sering dipertanyakan. Bagaimanapun siapa saja bisa menulis dan upload ke internet.
Apakah hanya dengan value kevalidan koran akan dapat bertahan? bukankan value ini bersifat khusus, artinya hanya orang tertentu yang menggunakannya, seperti mereka yang bekerja di bidang suvei/penelitian, mereka yang sedang menyelesaikan tulisan ilmiah, ataupun mereka yang memang mengerti mutu dan standar suatu tulisan/artikel (tidak termasuk untuk koran kuning). Seandainya dibuat itung-itungan, pastilah jumlah pembaca koran dengan pertimbangan benefit intangiable berdasarkan validitas mutu tulisan/artikel sebagaimana diatas jumlahnya akan kalah mutlak dengan mereka yang mengejar benefit rasional, dimana internet bisa menyediakan tulisan dan gambar yang lebih banyak dan beragam, serta video yang tidak bisa diberikan oleh koran.
Jika benefit tidak bisa diadu maka strategi harus diganti. Koran kembali melihat ke dalam artinya bagaimana sebuah koran bisa menyerap unique point internet sehingga bisa bertahan dan berjalan berdampingan. Pertanyaan besarnya apa unique point si pintar penyedia 'apa saja' di dunia maya ini. Tak perlu teliti untuk mengetahuinya, point paling utama internet ternyata navigasi, yaitu suatu sistem yang memungkinkan kita memetakan data yang ada dalam tekukan-tekukan halaman (page internet). Terus bagaimana koran akan mengimplementasikan sistem navigasi ini? Jawabnya adalah pada pola layout dan desainnya secara keseluruhan.
Mario Garcia, desainer koran dunia, adalah seorang imigran yang sukses hidup di Amerika, core edukasi dia bukanlah murni desain, Garcia hanyalah seorang jurnalis yang peka. Kepekaannya ini mampu menangkap apa yang sedang mewabah di dunia (baca: internet) dan dengan manis mampu memasukkannya ke dalam desain koran. Visuality-visibility-visual thinking adalah resepnya yang mampu membongkar navigasi internet atau sebutlah internet secara keseluruhan. Visuality artinya membuat semua lapisan informasi menjadi tampak, visibility adalah gampang dikenal, dan didukung oleh metode jurnalistik postmodern yaitu visual thinking.
Tiga elemen ini akan memaksimalkan warna, memunculkan keyword, menjadikan indeks sebagai kebutuhan pokok dan memposisikan grafis/infografis sebagai hal yang penting. Ketika navigasi internet teratasi, search engine (unique point internet lainnya) pun seolah terimplementasi secara paket di desain koran yang konsisten mengunakan tiga elemen ini.
*
Mario Garcia, Konsep visual Koran Kompas
|
|